PSEL Bogor: Solusi Sampah atau Hanya Janji? Tinjauan Greenpeace
Intisari Berita (AI Summary)
Poin Kunci- Pemerintah Bogor meluncurkan PSEL dengan kapasitas 15 MW untuk mengkonversi 60% sampah organik menjadi listrik.
- Greenpeace menilai program ini tidak cukup mengurangi emisi gas rumah kaca dan tidak mencakup pengurangan sampah di sumber.
- Teknologi digestasi anaerobik dalam PSEL hanya mencapai efisiensi 35%, di bawah standar industri.
- Pemerintah mengajak publik berpartisipasi dalam pengumpulan sampah terpisah dan edukasi pengurangan sampah.
Pada akhir September 2026, Pemerintah Kota Bogor resmi memperkenalkan program Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai upaya mengurangi volume sampah domestik sekaligus memproduksi listrik terbarukan. Program ini diklaim akan mengkonversi 60% sampah organik menjadi energi dengan kapasitas 15 MW, memanfaatkan teknologi biogas dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis biomassa.
Sejarah program ini bermula dari perjanjian kerjasama antara Dinas Lingkungan Hidup Bogor dan perusahaan energi swasta, Energi Hijau Nusantara. Pemerintah berjanji akan membangun fasilitas PSEL di kawasan industri Cibitung, memanfaatkan lahan kosong 10 hektar yang sebelumnya tidak terpakai. Pembangunan diperkirakan selesai pada akhir tahun 2027, dengan target produksi listrik yang dapat disalurkan ke PLN.
Namun, kritik muncul dari Greenpeace Indonesia yang menilai PSEL tidak cukup efektif sebagai solusi sampah. Mereka berpendapat bahwa konversi sampah menjadi energi masih menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan, terutama jika proses anaerobik tidak optimal. Greenpeace juga menyoroti bahwa program ini belum mencakup pengurangan sampah di sumber, seperti kampanye daur ulang dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
Secara teknis, PSEL menggunakan sistem digestasi anaerobik untuk mengolah sampah organik menjadi metana, yang kemudian diolah menjadi listrik. Selain itu, residu padat yang tersisa akan diolah menjadi kompos dan bahan bakar pellet. Meski demikian, analisis independen menunjukkan bahwa efisiensi konversi hanya mencapai 35%, lebih rendah dari standar industri yang biasanya 45-50%. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan ekonomi dan lingkungan dari proyek tersebut.
Di tengah perdebatan, pihak pemerintah tetap bersikeras bahwa PSEL adalah langkah penting menuju kota hijau. Mereka mengajak publik untuk berpartisipasi dalam program pengumpulan sampah terpisah dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengurangan sampah. Keputusan akhir akan diambil setelah evaluasi tahunan, namun sejauh ini, PSEL masih menghadapi tantangan besar dalam mencapai target emisi nol dan efisiensi energi yang optimal.
Rekomendasi Pilihan Pembaca
Penawaran Spesial Terkait Topik IniBagaimana Tanggapan Anda?
Pilih reaksi Anda untuk memberikan umpan balik pada artikel ini.
Artikel ini digenerate secara otomatis oleh AI dan dipublikasikan pada 22 Sep 2026 05:30.
Lihat Sumber AsliKomentar
Tinggalkan Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!